Kisah Nyata: Kodak dan Diversifikasi yang Menyesatkan
Kodak pernah menjadi raksasa fotografi dunia. Mereka dikenal memiliki teknologi film dan optik yang sangat kuat, serta jaringan distribusi global yang mendukung dominasi pasar. Namun pada awal 2000-an, Kodak mulai kehilangan pijakan karena era fotografi digital berkembang pesat. Alih-alih fokus mengoptimalkan kemampuan inti mereka di teknologi gambar digital (yang sebenarnya sudah mereka miliki), Kodak memilih memperluas bisnis ke berbagai lini seperti printer rumah tangga, perangkat medis, bahkan layanan cetak online.
Masalahnya, printer rumah tangga bukanlah bagian dari kekuatan inti Kodak. Industri ini memiliki model bisnis berbeda, mengandalkan penjualan tinta dan kertas (consumables), serta membutuhkan keahlian manufaktur dan pemasaran yang sangat spesifik. Beberapa tahun kemudian, divisi printer mereka tidak pernah benar-benar tumbuh dan malah menjadi beban finansial. Pada akhirnya, Kodak harus mengajukan perlindungan kebangkrutan pada 2012.
Apa Itu Core Competency?
Core competency adalah kemampuan utama yang menjadi sumber keunggulan bersaing dan pembeda perusahaan di pasar. Menurut C.K. Prahalad dan Gary Hamel, sebuah kemampuan dapat disebut core competency jika memenuhi tiga kriteria:
-
Memberikan nilai nyata kepada pelanggan — Membuat produk atau layanan lebih menarik dan bermanfaat.
-
Sulit ditiru oleh pesaing — Membutuhkan waktu, pengalaman, dan sumber daya yang signifikan untuk menirunya.
-
Dapat diaplikasikan di berbagai pasar — Mampu menjadi fondasi untuk mengembangkan produk atau layanan baru di berbagai segmen.
Contoh nyata:
-
Toyota → Sistem produksi efisien yang menjadi acuan industri otomotif.
-
Apple → Desain produk premium dan integrasi hardware-software yang mulus.
-
Google → Keunggulan algoritma pencarian dan pengolahan data berskala besar.
Risiko Tidak Mengenali Core Competency
Kasus Kodak menunjukkan risiko nyata ketika perusahaan tidak memahami atau mengabaikan Core competency-nya:
-
Strategi kehilangan fokus — Mengejar peluang yang terlihat besar, namun tidak relevan dengan kekuatan utama.
-
Diversifikasi berisiko tinggi — Masuk ke industri baru tanpa basis kompetensi yang kuat.
-
Hanya bersaing di harga — Karena tidak memiliki keunggulan unik yang dapat dipertahankan.
-
Inovasi yang tidak sejalan — Mengembangkan produk yang tidak sesuai dengan DNA perusahaan.
-
Identitas merek melemah — Konsumen kehilangan kejelasan mengenai keahlian utama perusahaan.
Kesimpulan
Ekspansi bisnis dapat menjadi strategi pertumbuhan yang luar biasa, tetapi hanya jika dilakukan dengan memanfaatkan core competency. Tanpa pemahaman yang jelas mengenai kekuatan inti, perusahaan berisiko membuang sumber daya pada inisiatif yang tidak relevan, seperti yang dialami Kodak.
Sebelum memutuskan masuk ke pasar baru, ada baiknya perusahaan bertanya:
"Apakah langkah ini memanfaatkan kekuatan utama kami yang sudah terbukti?"
Pertumbuhan yang berkelanjutan datang dari keselarasan antara strategi dan core competency bukan sekadar dari keberanian mencoba hal baru.
Kalau Anda masih belum menemukan core competency perusahaan Anda, tim Konsultan MitraLegal.co.id siap membantu mengevaluasi core competency perusahaan Anda supaya ekspansi bisnis Anda bisa terarah dan terhindar dari risiko dan kerugian yang tidak diperlukan.
